Zahrul Azhar As`ad, S.Ip, M.Kes*)
Ramadlan baru saja berlalu. Kini umat Islam merayakan kemenangan setelah berpuasa selama satu bulan penuh. Namun kemenangan sering dimaknai secara dangkal dengan hanya pesta pora berlebihan, bahkan seakan menghilangkan nilai-nilai dari Ramadlan itu sendiri yang telah mereka ”menangkan”. Pada hari kemenangan ini seakan menjadi justifikasi untuk memakai baju baru, mobil baru, gelang baru, dan pamer kemewahan pun menjadi tidak tabu. Segala makanan (bukan sekadar “cumi”; cuma minuman) mulai dari camilan, ketupat, lontong opor, sate kambing hingga nasi kebuli tersaji. Maka sudah menjadi pemandangan biasa di rumah sakit dengan banyaknya pasien yang terserang diare dan penyakit lambung lainnya di pekan pertama bulan Syawal.
Kupatan merupaka tradisi leluhur yang patut dijaga. Menurut ahli sejarah, istilah kupatan berasal dari kata kaffatan atau kaffah. Ada lagi yang mengatakan kupatan dari kata kupat singkatan dari kata ngaku lepat. Namun kali ini penulis ingin menyoroti ketupat sebagai makanan khas yang disajikan pada bulan Syawal yang biasanya “didampingi” daging-dagingan.
Mungkin sebagian pembaca bertanya dalam hati, apa hubungan makan daging dengan global warming (pemanasan global)? Bukankah pemanasan global hanya berkaitan dengan masalah lingkungan, hutan dan polusi kendaraan atau sejenisnya. Bukankah makan daging juga dapat memberikan energi lebih bagi si pemakan, bahkan sebagian orang menganjurkan kepada pengantin baru untuk mengonsumsi daging kambing agar lebih bertenaga dalam menjalankan “kewajibannya”.
Lingkungan yang tercemar akibat polusi dan pemanasan global, pola makan yang rendah serat, tinggi lemak (daging), pola hidup yang mengonsumsi rokok, alkohol, bahkan narkoba, serta rendahnya aktivitas fisik, mengakibatkan mudahnya terpapar berbagai penyakit dan menurunnya kualitas hidup. Sedangkan berpuasa merupakan upaya memperbaiki diri secara fisik, psikis dan spiritual yang diharapkan akan meningkatkan derajat kesehatan dan pola hidup yang peduli dengan alam sekitar. Dengan berpuasa kualitas hidup diharapkan akan meningkat.
Kenapa Rasulullah SAW memberikan tauladan pada umatnya untuk berbuka puasa dengan beberapa biji kurma, bukan dengan seiris daging onta misalnya, tentu dari sisi ekonomi memang jauh lebih murah kurma daripada seiris daging unta, dan dari sisi kesehatanpun kurma lebih “sehat dan menyehatkan”(meminjam istilah suci yang mensucikan dalam wudlu) dibanding daging onta yang “sehat dan belum tentu menyehatkan bagi semua orang. Subhananallah! Ternyata selain alasan di atas masih ada alasan yang membuat kita tahu betapa visionernya Kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam melihat fenomena dunia demi kelangsungan hidup umatnya dan seluruh mahkluk dunia, yaitu alasan pemanasan global!
Mari kita lihat data dan fakta yang menunjukkan kaitan erat antara mengonsumsi daging dengan pemanasan global. Dalam laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock's Long Shadow: Enviromental Issues and Options (November 2006), daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif 18%, bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13%). Peternakan juga adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi 2,4 miliar ton CO2.
PBB mencatat bahwa industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang paling tinggi (18%), jumlah ini melebihi gabungan dari seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan melepaskan 9 % karbondioksida dan 37 % gas metana (23 kali lebih berbahaya dari CO2). Selain itu, kotoran ternak menyumbang 65 % nitrooksida (296 kali lebih berbahaya dari CO2), serta 64 % amonia penyebab hujan asam. Peternakan hewan adalah penyebab utama polusi dan semua gas emisi ke dalam lingkungan, dibutuhkan jumlah air yang sangat besar untuk menghasilkan setengah kilogram daging dan itu akan menjadi suatu masalah. Sebenarnya ada cara lain untuk mendapatkan makanan yang mengandung cukup protein bagi kita.
Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktik (Arktik adalah sebuah wilayah di sekitar kutub utara bumi. termasuk bagian dari Rusia, Alaska, Kanada, Greenland, Islandia, Lapland, dan Norwegia.Penulis) hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktik bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Arktik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 Beting es Wilkins di Antartika (Antarktika dari bahasa Yunani "antarktikos", lawan kata arktik atau anti-arktik.Penulis) merupakan benua yang meliputi Kutub Selatan Bumi yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta ada 400 miliar ton gas metana di dasar laut kutub yang dapat memusnahkan kehidupan di bumi
Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, hendaknya kita memahami dan mengikuti contoh dari Rasulullah, yakni berbukalah dengan kurma, atau setidaknya mengurangi daging-dagingan, dan hidup berhemat. Bukankah Innal mubaddirina kanu ikhwana syayathina?
Marilah dalam kesempatan bulan kemenangan ini kita membuka cakrawala akan pentingnya keterlibatan kita sebagai khalifah fil ardl untuk peduli akan masa depan bumi yang kita pijak demi kelangsungan anak cucu kita dengan menjaga hutan dan alam kita, mengatur pola makan dan gaya hidup kita sesuai yang dicontohkan oleh Baginda Muhammad SAW. Di saat kita mengatur waktu, sesungguhnya kita pun mengatur pikiran, kemauan, kebiasaan, emosi dan perasaan kita. Mari kita rayakan kupatan ini dengan merujuk kepada asal-muasal kata kupatan yang diambil dari kata kaffatan sehingga kita menjadi muslim kaffah yang juga peduli kepada alam sekitarnya. Makan ketupat tidak pake daging, mari bertindak tepat untuk mencegah global warming. Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf lahir dan batin.
*)
Penulis adalah Ketua Umum Sapawana (Santri Pecinta Hutan), Wakil Direktur RS Unipdu Medika Jombang, dan Wakil Ketua LKK PWNU Jatim.
Rabu, 01 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar